Oleh: Riva Julianto
Kebalikan dari tren sosial media bahwa “aku selfie maka aku eksis”.
Di dunia pendidikan adagium “aku belajar maka aku ada” harus menjadi
falsafah bagi setiap orang. Adagium ini memang terinspirasi dari
pernyataan terkenal cogito ergo sum(aku berpikir maka aku ada) dari Rene Descartes, seorang filsuf Perancis abad pertengahan.
Ia
mengungkapkan pemikirannya ini sebagai tanggapan atas situasi dan
kondisi saat itu di mana agama (saat itu diwakili oleh Gereja yang
berkuasa atas ilmu pengetahuan) menjadi pusat dari semua ilmu
pengetahuan dan pemikiran masyarakat.
Semua perkembangan ilmu
pengetahuan dan pemikiran dikontrol dan harus mendapatkan persetujuan
dari Gereja. Pemikiran ini pula yang menjadi dasar dari berkembanganya
ilmu pengetahuan dan perlawanan terhadap pengekangan ilmu pengetahuan
setelah abad pertengahan.
Apakah pemikiran ini masih relevan
dengan masa kini, terutama Indonesia? Oh tentu saja. Malah makin
menguatkan dan menjadi keniscayaan bagi siapapun. Bukan hanya para
pendidik, peserta didik, keluarga atau masyarakat. Setiap orang adalah
pribadi pembelajar. Manusia sejatinya terlahir sebagai manusia
pembelajar dan dapat dididik (homo educandus) serta makhluk berakal budi (animal rationale).
Jadi
pada dasarnya setiap manusia adalah makhluk pembelajar sejak lahir
sampai ajal menjemputnya. Tanpa bimbingan atau guru pun manusia
sebenarnya dapat belajar secara otodidak. Alam adalah guru terbaik
manusia. Cerita tentang tokoh Tarzan adalah contoh klasik di mana
seorang anak manusia dididik dan dibesarkan oleh alam.
Masa kini
adalah eranya revolusi informasi berkat kehadiran teknologi internet dan
digital. Jutaan, bahkan milyaran informasi, bertebaran di dunia maya.
Semua jenis informasi tersedia di sini mulai dari rahasia negara sampai
gosip di sosial media. Itu sebabnya setiap orang dituntut untuk dapat
mengolah dan mempelajarinya. Dunia digital dan internet hanyalah
kumbangan data dan informasi yang masih perlu diolah dan dipelajari.
Peran alam banyak digantikan oleh jaringan internet.
Semakin
banyak orang lebih senang belajar kepada internet daripada kepada alam.
Belajar dari alam bukan saja mensyaratkan pengetahuan kognitif manusia,
tapi juga pengalaman empiris. Manusia harus mengalami sendiri gejala dan
kebesaran alam. Dari pengalaman bersama alam inilah manusia dapat
mengkonstruksi ilmu pengetahuan seperti apa yang dilakukan Newton dengan
menjatuhkan apel atau Benjamin Franklin dengan menerbangkan
layang-layang.
Manusia dapat bertahan hidup dan menjadi makhluk
berakal karena ia mampu belajar. Tanpa belajar manusia tidak akan eksis,
bahkan dapat terancam punah. Kepunahan manusia bukan saja karena faktor
alam, tapi juga karena tindakan dan ulah manusia. Akal dan
kepintarannya jika tidak digunakan secara bijak dapat mengancam
eksistensi manusia sendiri.
Ilmu yang dipelajarinya bukan
digunakan untuk mempertahankan hidupnya, tapi untuk mengejar kepuasan
akan nafsu konsumtif dan kesenangan duniawi sehingga menghabiskan sumber
daya alam yang terbatas. Namun dengan ilmu pengetahuan yang dipunyainya
pula manusia terus-menerus mencari sumber daya alternatif untuk menjaga
keberlangsungan hidupnya, termasuk mengeksplorasi planet lainnya
seperti Mars.
Pendidikan adalah suatu proses pada diri manusia
untuk memahami alam semesta dan kehidupan ini melalui ilmu pengetahuan
yang dapat diwariskan, dipelajari dan dieksplorasi. Namun sayangnya ilmu
pengetahuan yang dipelajari tidak bebas nilai. Mengapa? Tidak sedikit
peristiwa kejahatan dilakukan dan terjadi dengan menggunakan ilmu
pengetahuan yang telah dipelajari dan didapatkan pelaku kejahatan. Bisa
juga ilmu digunakan demi keuntungan pribadi dengan cara menindas manusia
lain atau mengekploitasi alam.
Lalu, bagaimana caranya agar
manusia tidak menyalahgunakan ilmu pengetahuan yang didapatnya?
Jawabannya adalah pendidikan moral dan etika. Pendidikan moral dan etika
harus menjadi pondasi utama untuk menopang dan melahirkan generasi yang
bermoral dan beretika. Jika meminjam slogan Jokowi, maka kesadaran
inilah yang disebut sebagai proses revolusi mental.
Namun
persoalan yang kemudian muncul adalah moralitas dan etika mana yang
menjadi kebenaran dan panduan bagi setiap orang. Tentu moral dan etika
terdapat di ajaran setiap agama, adat istiadat dan nilai-nilai yang
hidup di masyarakat. Namun di dalam konteks kehidupan bernegara dan
bermasyarakat di Indonesia, Pancasila telah disepakati menjadi dasar
dari moralitas dan etika setiap warga negara Indonesia yang sejatinya
senantiasa harus dihayati, dipelajari dan dipraktekan baik di dunia
pendidikan dan pengajaran maupun di kehidupan sehari-hari. Moral dan
etika ini menjadi penting karena dapat mengarahkan manusia kepada
keberlangsungan hidupnya, dan bukan kepada kehancuran dan kepunahannya.
No comments:
Post a Comment